MEMPERINGATI HARI BUMI, UNSA MELAKSANAKAN PENANAMAN MANGROVE

Isu perubahan iklim dan pemanasan global (global warming) menjadi isu yang paling hangat di dunia saat ini. Umur bumi yang semakin menua dengan ragamnya aktivitas manusia membuat ancaman terhadap bumi semakin parah. Ragam aktivitas manusia demi meraup uang namun alam menjadi korbannya, akibatnya terjadi perubahan iklim dan pemanasan global yang mengancam bumi, termasuk didalamnya terjadi pencemaran lingkungan dan kekeringan. Para aktivis lingkungan hidup dan organisasi dunia yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan kemanusiaan saat ini tiada henti melakukan demonstrasi, sosialisasi dalam hal menjaga bumi ini. seiring dengan isu tersebut, bertepatan dengan hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2016, di berbagai Negara, organisasi lingkungan hidup serta komunitas-komunitas pecinta alam pun memperingatinya dengan berbagai aktivitas yang menyadarkan manusia betapa pentingnya menjaga lingkungan, tidak terkecuali Universitas Samawa (UNSA) sebagai lembaga pendidikan tinggi di Kabupaten Sumbawa.
UNSA melalui Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMPS) MSP bekerjasama dengan organisasi internasional lingkungan hidup yaitu WCS (Wild Life conservation society) memperingati hari Bumi dengan melaksanakan kegiatan penghijauan dengan melakukan penanaman 300 tanaman Magrove jenis Rhizopora sp di sepanjang pesisir dusun Omo Desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara Sumbawa Besar. Tema dari kegiatan ini adalah “SEMI (Semangat Hari Bumi ), stop global warming and sediment”. Adapun yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah pelajar (SMA dan SMP), Mahasiswa (UKM dan HMPS), organinsasi eksternal mahasiswa, Komunitas-komunitas lingkungan hidup, NGO dan masyarakat sekitar, diantaranya SMAN 2 Sumbawa, SMAN 3 Sumbawa, SMA Moyo Utara, MTS Penyaring, Anak-anak Alam (A3), UKM Mapala UNSA, HMPS Biologi UNSA, HMPS Tekpen UNSA, PMII, HMI dan Samaras. Peserta berjumlah 160 beserta pendamping OSIS dari masing-masing sekolah yang terlibat. Turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Sekcam Moyo Utara, Kepala Desa Penyaring, Kepala Dusun Omo, tokoh Pemuda, Tokoh Agama dan Tokoh masyarakat setempat.
Syahdi Mastar, SP.,M.Si selaku dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan UNSA mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai ajang pembelajaran bagi mahasiswa dan pelajar agar lebih mencintai alam, sebab siapa lagi yang akan menjaga alam ini kalau bukan kita, terutama generasi muda. Sejalan dengan itu, Neri Kautsari, S.Pi.,M.Si selaku Ketua Program Studi MSP UNSA juga mengatakan bahwa secara pribadi kami sangat apresiasi dan kagum akan kegiatan mahasiswa ini, sudah jauh hari mereka mempersiapkan kegiatan ini, mereka sangat antusias dalam kegiatan menjaga dan melestarikan lingkungan ini, sebab melihat pemuda saat ini yang jarang sekali dengan kegiatan-kegiatan alam. Bahkan mangrove yang mereka tanam adalah bibit yang disediakan oleh mereka sendiri melalui persemaian dalam polibek sampai menjadi besar untuk siap ditanam, mengingat mangrove tidak tersedia di Sumbawa, sehingga mereka yang berusaha sendiri untuk pengadaan bibit, ini bukti keseriusan dan kecintaan mereka akan alam ini.
Chandra Rasiardhy selaku ketua HMPS MSP yang sekarang ini sedang menempuh semester 8 ini mengatakan bahwa kami memfokuskan kegiatan ini kepada generasi muda, agar generasi muda lebih mencintai dan memelihara lingkungannya, sebab bumi ini akan selamat jika pemudanya bergerak untuk menyelamatkan lingkungan. Selain itu Candra juga mengatakan bahwa dipilihnya dusun Omo sebagai pusat kegiatan memperingati hari bumi oleh Prodi MSP UNSA adalah karena mengingat dusun tersebut berada di pesisir pantai dengan kondisi mangrove yang mengalami degradasi akibat dari alih fungsi lahan menjadi tambak. Laut adalah pembuangan terkahir jadi laut harus dijaga, Bagi kami everyday is Earthday. sambungnya. Sejalan dengan itu, Harika Ramdani selaku ketua panitia kegiatan tersebut mengatakan bahwa wilayah tambak merupakan penyumbang terbesar sedimen untuk perairan, jika tidak dikuarangi maka akan berdampak terhadap rusaknya ekosistem perairan khususnya terumbu karang, jika terumbu karang rusak maka tidak akan ada ikan. Dipilihnya mangrove sebab mangrove dapat menyerap CO2 dan sekaligus mengikat atau menyerap sedimen, sehingga dapat menimalisir dampak global warming. Kegiatan ini juga sejalan dengan program studi kami yang bergerak dalam bidang pengelolaan Sumberdaya Perariran, sambung dari mahasiswa semester 4 tersebut.
Penghijauan tersebut dilaksanakan sekitar 500 Meter sepanjang pesisir dan menggunakan perahu kecil (sampan) dari tempat satu ke tempat lain. Tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah pemagaran, pemeliharaan dan sekaligus sebagai tempat praktikum untuk kegiatan mahasiswa lainnya. kegiatan tersebut juga diisi dengan cap stempel warna hijau dan biru oleh seluruh peserta di atas kain putih sebagai simbul hutan dan laut agar jangan dirusak dan selalu dijaga, setelah itu ditutup dengan kegiatan bakti lingkungan oleh seluruh peserta.

KEGIATAN HMPS 2_1 KEGIATAN HMPS3

IMG-20160423-WA0042_1_1

Share Now

Heri Kurniawan

More Posts By Heri Kurniawan

Related Post

Leave us a reply