KKN-PPM UNSA Beri Pelatihan Budidaya, Pengolahan, dan Pemanfaatan Rumput Laut di Kawasan Konservasi Perairan Sumbawa

Tidak hanya pengembangan ekowisata wisata bahari, Kelompok KKN-PPM UNSA juga melaksanakan program-program lain yang berkaitan dengan pemberdayaan dan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar Kawasan yang dicadangkan sebagai kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kramat, Bedil, dan Temudong. Program-program tersebut diantaranya yaitu pelatihan budidaya rumput laut di zona perikanan berkelanjutan serta pengolahan dan pemanfaatan hasil perikanan non ikan (rumput laut dan mangrove).
Secara garis besar tujuan dan manfaat dari serangkaian program KKN-PPM ini ialah sebagai langkah awal dalam meningkatkan pendapatan nelayan di sekitar kawasan yang dicanangkan sebagai kawasan konservasi perairan (KKP) yang selama ini sebagaian masyarakat di sekitar kawasan konservasi perairan Indonesia memiliki persepsi yang kurang baik dan kurang optimis terhadap kegiatan konservasi perairan. Hal ini dikarenakan dalam mencapai tujuannya, KKP dibagi ke dalam tiga zona pengelolaan yaitu zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona perikanan berkelanjutan. Wilayah perairan Kramat, Bedil dan Temudong merupakan wilayah perairan yang dicadangkan sebagai kawasan konsevasi perairan (KKP) dengan rencana pembagian zona yaitu zona inti (100 Ha), zona pemanfaatan terbatas (650 Ha) dan zona perikanan berkelanjutan (1.250 Ha) (DKP Kab Sumbawa, 2014). Zonasi tersebut menyebabkan adanya aturan dan kebijakan baru yang diterapkan kepada masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Salah satu aturannya ialah pelarangan penangkapan ikan serta kegiatan eksploitasi lainnya di zona inti dan zona pemanfaatan terbatas. Hal tersebut secara langsung menyebabkan berkurangnya luasan daerah tangkapan nelayan di sekitar kawasan. Penurunan luasan daerah tangkapan secara tidak langsung menyebabkan jumlah tangkapan berkurang yang akhirnya mempengaruhi jumlah pendapatan nelayan di melakukan penangkapan di sekitar kawasan konservasi. Adanya dampak tersebut, membuat sebagian masyarakat memiliki persepsi bahwa kegiatan konservasi kurang berperan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat atau dapat diartikan bahwa sebagian masyarakat memiliki persepsi kurang baik terhadap kegiatan konservasi.
Oleh karena itu, program-program KKN-PPM ini ialah program yang dapat membantu pemerintah dalam mensukseskan tujuan konservasi yang sebenarnya. Dengan adanya pemanfaatan zona perikanan berkelanjutan sebagai lokasi pengembangan ekowisata bahari dan budidaya rumput laut, maka secara tidak langsung masyarakat juga memperoleh manfaatnya dari beberapa kegiatan misalnya penyewaan perahu, sebagai guide (pemandu wisata) atau sebagai pembudidaya rumput laut. Dampak positif lainnya yang tidak kalah penting dari program ini ialah secara langsung masyarakat akan menjaga lingkungan perairan dari pencemaran ataupun hal lainnya yang bersifat merusak lingkungan. Karena masyarakat sudah diberi pengetahuan mengenai pentingnya lingkungan perairan yang bersih dalam menarik wisatawan.
Apa yang yang telah dicapai KKN-PPM ini telah dirasakan secara nyata oleh kelompok pemuda Desa Bajo yang merupakan kelompok yang dibina dalam KKN-PPM ini. Rusmin Nuryadin yang merupakan kelompok pemuda KBT mengatakan bahwa setelah adanya pengembangan ekowisata bahari dan promosi wisata yang dilakukan bersama kelompok KKN-PPM UNSA, kawasan KBT terutama Pulau Bedil kedatangan banyak wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan manca Negara. Rusmin juga mengatakan bahwa secara langsung mereka mendapatkan keuntungan secara ekonomi melalu penyewaan perahu, sebagai pemandu dan sebagai juru foto. Sebelumnya, desa kami ataupun wilayah KBT sangat jarang dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa hari setelah lebaran (setelah adanya program KKN), kami hampir kewalahan melayani wisatawan yang jumlahnya terlalu banyak.
Terkait program lainnya yaitu budidaya rumput laut dan pengolahan hasil perikanan akan diintegrasikan dengan ekowisata bahari. Kedepannya (dalam jangka pangjang) kelompok pemuda yang dibina oleh KKN-PPM ini akan berusaha menjadikan budidaya rumput laut sebagai wisata edukasi sedangkan hasil olahannya baik olahan rumput laut maupun olahan perikanan lainnya (salah satunya teh mangrove) akan dijadikan sebagai ciri khas atau oleh-oleh yang dapat dinikmati atau di bawa pulang oleh wisatawan. Untuk saat ini pengolahan hasil perikanan yang dilatih oleh mahasiswa KKN-PPM adalah berupa produk-produk olahan dari rumput laut dan mangrove.
Dengan adanya ekowisata bahari maupun budidaya dan pengohalahan hasil perikanan diharapkan masyarakat Desa Bajo dapat memperoleh penghasilan lainnya sehigga tidak hanya tergantung dengan penangkapan ikan saja atau dapat dikatakan masyarakat dapat mandiri secara ekonomi. Tahun depan, kami akan mencoba mengusulkan kembali program dana hibah KKN-PPM atau hibah lainnya secara terus menerus mampu mendampingi masyarakat dan kelompok pemuda di kawasan KBT terutama masyarakat Desa Labuhan Bajo.

Share Now

Heri Kurniawan

More Posts By Heri Kurniawan

Related Post

Leave us a reply