LAGI, DOSEN UNSA IKUT KONFERENSI INTERNASIONAL

  • By
  • Posted In

Persoalan lingkungan, seperti perubahan iklim, limbah, sampah, ekosistsem, illegal logging, dan sebagainya tidak pernah usai. Lingkungan cenderung desktruktif diakibatkan oleh cara pandang materialisme dan kapitalisme. Padahal lingkungan harusnya dilestarikan, terlebih lagi sebagai tempat manusia berkoloni. Sayangnya internalisasi lingkungan belum massif dilakukan oleh stakeholder. Ditambah lagi propaganda dan kampanye serta sosialisasi kesadaran lingkungan masih bersifat parsial atau partikular—masih belum melibatkan aspek lain, misalnya melalui bahasa dana atau sastra.

“Selama ini internalisasi lingkungan diserahkan sepenuhnya kepada sarjanawan-sarjanawan pertanian, peternakan, dana atau kehutanan. Menumbuhkan kesadaran mencintai lingkungan bisa saja dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui sastra. Melalui fungsi instrumental atau fungsi regulatori dapat saja sastra (bahasa) dijadikan alat internalisasi. Puisi, prosa, dan drama bisa saja digunakan sebagai media kampanye pelestarian lingkungan.

Visi Universitas Samawa Sumbawa Besar adalah Berdaya Saing Lokal, Berdaya Saing Global. Alasan itulah yang mendorong salah satu dosen UNSA yaitu Juanda, M.Pd yang juga selaku Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia FKIP UNSA ini untuk mendeseminasikan gagasannya tentang kebijakan Bahasa Indonesia, khusunya dari aspek isu-isu lingkungan. Juan, sapaan akrab dosen muda ini cukup aktif mengikuti forum-forum ilmiah baik konferensi internasional maupun seminar nasional. Pada tahun ini, beliau mengkuti tiga kegiatan internasional, seperti The 25th International Conference on Literature.

Kegiatan internasional tersebut akan diselenggarakan pada 13-15 Oktober 2016 di Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) bekerjasama dengan HISKI Komisariat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dengan tema of Green Literature. Adapun judul artikel yang dipresentasikan oleh Promovendus (Kandidat Doktor) Ilmu Pendidikan Bahasa UNY tersebut adalah Environment Issues in Indonesia Language Policy (Isu-isu Lingkungan dalam Kebijakan Bahasa Indonesia).

Beliau mencurahkan perhatiannya pada kebijakan Bahasa Indonesia, termasuk disertasinya juga mengular kebijakan bahasa. Seperti dikatakan oleh beliau, “Dalam konteks kebijakan Bahasa Indonesia, isu lingkungan sepertinya belum mendapat perhatian jamak.” Dalam artikelnya, beliau menyampaikan tujuh periodisasi kebijakan Bahasa Indonesia, yaitu: (1) Prakolonial (abad ke-17 sampai 18), (2) Hindia-Belanda (1816-1942), (3) Sumpah Pemuda (1928-1942), (4) Jepang (1942-1945), (5) Orde Lama (1945-1966), (6) Orde Baru (1966-1998), dan (7) Reformasi (1998-sekarang). Ketujuh periode tersebut kiranya dapat diteluri (baik diakronik maupun sinkronik) berkaitan dengan isu-isu lingkungan dalam kebijakan bahasa dan perencanaan bahasa. Selain tujuh periodisasi tersebut, beliau juga memaparkan model perencanaan bahasa Haugen, sebagai berikut:

juanda-1

Untuk menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan tidak bisa temporal atau aksidental, yaitu melalui makro saja. Bahkan harus dimulai dari supramakro, makro, mikro, dan inframikro. Namun demikian, untuk mikro dana tau inframikro mungkin sastra dapat dilibatkan dalam penanggulangan bahaya dan dampak kerusakan tersebut. Pertimbangan ini didasari pada peran dan fungsi sastra (bahasa).

juanda-2

Dari ulasan histroris itu, beliau menyimpulkan bahwa kebijakan Bahasa Indonesia baik dari perundangan, peraturan, maupun hasil amar putusan Kongres Bahasa Indonesia belum secara eksplisit adanya tema-tema atau isu-isu lingkungan. Meskipun demikian, karya-karya sastra yang bertemakan persoalan lingkungan telah mulai bermunculan, bahkan ada pula yang menggalang gerakan Green Literature. Tentu langkah ini harus diapresiasi di tengah kerusakan alam yang kian cepat.

Share Now

More Posts By

Related Post

Leave us a reply

Translate »